Terima kasih untuk kamu yang sudah datang berkunjung ke "rumah" pameran virtual seni rupa saya. Jelas kamu adalah orang istimewa, karena tidak banyak orang yang mempunyai sense of art dan kemudian secara nyata hadir dengan antusias memberika apresiasi kepada karya seni dan senimannya.
Sebuah Prolog untuk Kamu
Mulanya, saya ingin karya ini disajikan secara free saja, tanpa ada kontribusi untuk tim panitia yang menyelenggarakan exhibition secara daring ini. Namun jika begitu, rasanya tidak adil. Kami ingin, hanya kamu dan teman-teman lain yang benar-benar serius dalam mengapresiasi karya seni rupa lah yang bisa menikmati karya ini. Mencoba menangkap pesan dan mungkin inspirasi (jika ada) atau malah kritik.
Dalam tulisan selanjutnya, akan coba saya kisahkan kepada kamu, bagaimana mulanya karya ini, proses, dialektika, serta pergulatan ide di dalamnya. Semoga kamu suka ya.
TERAPI
Entah itu menggambar, mewarna dengan pastel, membuat sketsa dan melukis, adalah cara saya untuk menyalurkan perasaan-perasaan yang mengendap. Perasaan-perasaan ini lahir dari pikiran-pikiran yang setiap hari selalu gemuruh. Pikiran memengaruhi emosi dan perasaan dan tindakan. Tentu saja pikiran-pikiran ini perlu kita kelola dan salurkan agar tidak mengendap dan berdampak negatif.
Cara saya berkarya menggunakan oil pastel bisa kamu lihat di video yang saya rekam menggunakan ponsel pintar dibawah ini ⬇️⬇️⬇️
PASTEL - Saya menggunakan media pastel dalam beberapa karya ini.
Bagi saya (dengan pertolongan Tuhan) aktivitas seni rupa adalah terapi yang saya sukai untuk diri saya sendiri. Ada perasaan senang dan gembira saat selesai menggambar, mewarna, membuat sketsa dan melukis. Melakukan kegiatan kriya, artisan, manual itu memiliki sensasi yang khas dan unik.
OIL PASTEL - Saya menggunakan oil pastel milik anak saya untuk berkarya, murah dan meriah.
Mengapa Menggunakan Oil Pastel?
Karena lama berkecimpung sebagai jurnalis (sekitar 12 tahun), ada sebuah kebiasaan yang terbawa hingga sekarang. Itu adalah sikap skeptis. Saya sering mempertanyakan sesuatu, mencoba membukanya hingga ketemu kebenaran yang saya anggap sebagai data A1 alias valid. Karena tugas jurnalis adalah memvalidasi data, dan tidak beropini.
Begitu juga saat saya berkarya. Saya kadang bertanya kepada diri sendiri, kenapa harga cat minyak, kanvas dan media untuk melukis itu mahal? Ada yang sampai ratusan ribu satu warna saja, meski yang murah juga ada. Namun tetap saja, kalau kita berkarya dalam jumlah banyak, butuh budget yang juga tidak sedikit. Apakah berkarya harus semahal itu? Apakah ini artinya tidak terjangkau untuk masyarakat kelas bawah?
Untuk itulah saya mencoba menggunakan media oil pastel untuk membuktikan dan menjawab rasa skeptis itu tadi. Bahwa berkarya tidak perlu harus mahal. Jangan sampai ada yang tidak berkarya, hanya dengan alasan: medianya mahal.
Sketsa Tinta Cina
Menggunakan tinta cina untuk membuat sketsa sungguh jauh berbeda dengan menggunakan pensil, pulpen atau spidol. Saya menggunakan kayu bekas kuas yang diraut ujungnya, kemudian dicelupkan ke dalam botol tinta cina. Setelahnya, barulah digoreskan ke atas kertas.
Ini sungguh tricky, kita perlu sedikit pembiasaan agar goresan yang ada tidak ketebalan ataupun terlalu tipis. Tapi jika sudah agak terbiasa, sebenarnya ini mengasyikkan. Apalagi jika sketsa kita sudah rampung. Tentu saja ada rasa bahagia yang menghinggapi. Harga tinta cina ini tidak mahal dan sangat terjangkau, hanya sekitar Rp4.000 saja per botol kecil. Bisa digunakan sampai lima sketsa di atas kertas ukuran dua kali A4.
Di bawah ini adalah beberapa sketsa yang saya rampungkan di atas kertas.
Silakan putar dulu video nature sound di bawah ini, untuk menambah nuansa pengalaman merasakan karya seni rupa:
ILMU- Rak buku di Rumah Oettara, Kota Banjarbaru.
RUMAH OETTARA memiliki kesan tersendiri bagi saya. Semula berada di Kampung Buku Banjarmasin dengan nama Oettara Koffie. Di tempat inilah saya mulai melihat beberapa lukisan.
Saya melihat lukisan pak Robert, ada lukisan keris dan coretan-coretan yang menurut saya artistik. Sepertinya, mulai dari sana, saya mulai kembali tertarik dengan seni rupa, terutama lukisan. Ada kesan dan pemahaman baru dalam memandang karya lukisan. Kalau dulu waktu sekolah, saya mengira inti utama dari lukisan adalah soal teknik. Namun paradigma itu mulai bergeser, saya mulai mencoba menikmati lukisan dengan menangkap emosi dari pelukis lewat goresan, warna dan tekstur pada lukisan. Kemudian mencoba menerka, pesan apa yang ingin disampaikan sang pelukis dari lukisannya.
Sekarang Oettara melanjutkan perjalanannya di Kota Banjarbaru dengan nama baru, Rumah Oettara. Ketika saya mampir ke Rumah Oettara, saya sempatkan membuat sketsa. Dengan suguhan tempe mendoan dan teh panas tawar, membuat sketsa di Rumah Oettara jadi lebih nikmat. Di Rumah Oettara ini pula lah, Maret 2022, buku yang saya tulis tentang Kopi Kalsel diluncurkan dan dibahas bersama-sama.
JUALAN - Menjual dan membeli bisa terjadi karena komunikasi.
JUALAN adalah kegiatan yang selalu ada di pasar. Apa jadinya pasar tanpa adanya aktivitas ini? Ada tiga sketsa yang saya buat menggambarkan aktivitas jual beli di pasar. Pasar, mulai dari skala paling mikro hingga yang paling makro, adalah tempat yang kompleks dan sangat memungkinkan terjadi intrik, tipu menipu, siasat, riba, janji palsu dan banyak hal yang melalaikan.
Namun apakah kita akan meninggalkan pasar? Tentu saja tidak, pasar akan tetap kita perlukan, namun kita berupaya tidak didikte oleh pasar. Kita hanya menggunakan pasar sebagai alat dan berusaha tidak diperalat pasar.
HAGIA SOPHIA - Novel tentang Badiuzzaman Said Nursi dari Turki pernah suatu kali memengaruhiku hingga berangkat ke hutan.
NGOMONG-ngomong soal Turki. Saya suka membaca novel tentang Badiuzzaman Said Nursi. Seorang tokoh ulama jenius dari Turki. Keberanian dan tauhidnya yang kuat benar-benar tergambar dalam novel tersebut. Sampai-sampai setelah membaca itu, saya jadi tergerak berangkat ke hutan bersama teman-teman, menginap tiga hari dua malam. Ingat betul saya, waktu shubuh sekitar pukul lima kami naik ke atas pegunungan. Hari masih lumayan gelap. Ingat itu kadang jadi ketawa aja.
KAFE HENING - Di kafe ini tidak boleh ada musik, hening.
SESEKALI saya juga berkunjung ke beberapa kafe di Banjarmasin. Satu yang cukup unik ya di sini nih. Dulu, waktu saya masih mahasiswa, tempat ini adalah restoran. Jualan utamanya adalah sea food gitu lah. Namun sekarang berubah menjadi semacam kafe. Asli gak ada musik-musik di sini. Yang ada sih buku-buku novel, kitab hatdits, sirah nabawiyah. Entah lah. Meski hening, aya asik aja, adem dan tenang gitu. NAh saat saya ke sana, saya sempatkan membuat sketsanya. Ada rumah berbetuk diamond yang terbuat dari kayu. Gak tau juga sih kayu apa. Jangan-jangan kayu ulin kali ya?
PANTING - Alat musik panting khas Banjar di Rumah Oettara.
ADA beberapa lukisan di Rumah Oettara Banjarbaru. Semuanya adalah karya Ketua Dewan Kesenian Kota BAnjarmasin, Hajriansyah. Lukisannya bertema sufistik dan spiritual. Sebenarnya ada satu lukisan yang saya sangat suka sekali. Benera suka sekali lho ini, bukan sekadar suka aja. Lukisan seorang penari sufi membentangkan tagan bersama kupu-kupu. Namun karena budget belum cukup buat ngebeli tu lukisan, ya sementara dipandang dan difoto aja. Siapa tau nanti bisa kebeli. Amin ya Rabb.
KAMPUNG BUKU - Deretan toko di Kampung Buku, Jalan Sultan Adam Banjarmasin Utara.
MAZAYAKA - Sebuah toko buku yang juga banyak lukisan karya Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin, Hajriansyah
COFFEE SHOP LOKAL - Walaupun banyak coffee shop bermunculan, tempat ini tetap di hati.
PASAR - Kegiatan jualan di pasar kerajinan.
WANITA - Semangat ibu-ibu berjualan.
MAWARUNG - Ada istilah mawarung bagi orang Banjar, artinya nongkrong di warung.
___________________________________
OIL PASTEL
Karya-karya di bawah ini menggunakan oil pastel di atas kertas. Ukuran kertasnya, kira-kira ukuran F4 dibagi dua. Dikerjakan tidak secara sekaligus. Namun pelan-pelan, kadang satu hari bisa satu sampai dua karya. Kok begitu? Saya tidak ingin berkarya malah menjadi beban. Berkarya dengan hati lapang dan gembira itu lebih asyik.
DUA IKAN - Tidak ada hubungannya dengan kepercayaan bahwa gambar ikan membawa keberuntungan. Murni hanya karena suka saja.
Pada beberapa karya di bawah, adalah ekspresi saya terhadap eksploitasi alam. Menggambarkan lubang-lubang sisa pertambangan. Alam dibabat.